Kamis, 20 Desember 2018

Makalah Ekonomi Institusional

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring berita tentang kebangkrutan beberapa perusahaan raksasa di Amerika Serikat akibat krisis keuangan di akhir tahun 2008 lalu, beberapa media menulis gaya hidup mewah CEO sebuah perusahaan yang sedang mengalami kesulitan finansial dan menuju kebangkrutan. Di tengah usaha pemerintah USA melakukan tindakan penyelamatan ekonomi negara adidaya, ternyata manejer-manejer perusahaan justru sedang asyik dengan kebiasaan hidup “menghambur-hamburkan uang” yang telah menjadi bagian dari gaya hidup para jet set.
Berita tersebut diatas menguak ketika ekonomi kapitalis (klasik) telah dipertanyakan ketangguhannya menghadapi guncangan krisis. Salah urus perusahaan dari para manejer keuangan di perusahaan-perusahaan raksasa USA juga dituding sebagai biang dari permasalahan tersebut. Namun dibalik berita-berita tersebut, mengingatk an kita pada aliran pemikiran ekonomi institusional yang dirintis oleh Thorstein Bunde Veblen (1857-1929). Inti pemikiran Veblen dapat dinyatakan dalam beberapa kenyataan ekonomi yang terlihat dalam perilaku individu dan masyarakat tidak hanya disebabkan oleh motivasi ekonomi tetapi juga karena motivasi lain (seperti motivasi sosial dan kejiwaan), maka Veblen tidak puas terhadap gambaran teoretis tentang perilaku individu dan masyarakat dalam pemikiran ekonomi ortodoks. Dengan demikian, ilmu ekonomi menurut Veblen jauh lebih luas daripada yang ditemukan dalam pandangan ahli-ahli ekonomi ortodoks. Veblen pada intinya mengkritik teori-teori yang digunakan kaum klasik dan neo-klasik yang model-model teoritis dan matematisnya dinilai bias dan cenderung terlalu menyederhanakan fenomena-fenomena ekonomi.
Pemikiran-pemikiran ekonomi klasik dan neo klasik juga dikritiknya karena dianggap mengabaikan aspek-aspek non ekonomi seperti kelembagaan dan lingkungan. Padahal Veblen menilai pengaruh keadaan dan lingkungan sangat besar terhadap tingkah laku ekonomi masyarakat. Struktur politik dan sosial yang tidak mendukung dapat meinblokir dan menimbulkan distorsi proses ekonomi.
Ekonomi institusional merupakan sebuah pemikiran dalam ilmu ekonomi yang bermakna pandangan bahawa sebuah prilaku ekonomi (economic behavior) suatu pihak atau seseorang yang sangat dipengaruhi tehadap institusi tertentu. Institusi dalam hal ini mempunyai arti yang luas serta secara singkat bisa diartikan sebagai “aturan main” dalam sebuah kelompok masyarakat yang ada didalam sebuah kelompok itu sendiri.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah lahirnya Ekonomi Institusional ?
2. Sebutkan tokoh-tokoh pemikiran Ekonomi Institusioanl ?
3. Bagaimana corak pemikiran Ekonomi Institusional ?

C. Tujuan Penulisan
1. Agar penulis dapat mengetahui sejarah lahirnya Ekonomi Institusional.
2. Agar penulis dapat mengetahui tokoh-tokoh Aliran Ekonomi Institusional
3. Agar penulis dapat memahami corak pemikiran Ekonomi Institusional..

BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah ekonomi institusional
Mazhab Institusional pada awalnya muncul sebagai sanggahan terhadap pandangan atau mazhab ekonomi neo-klassik yang menyatakan bahwa perilaku ekonomi seseorang adalah semata-mata didasarkan pada keinginan setiap individu untuk memaksimalkan keuntungan (maximizing profit behaviour).Istilah “ekonomi institusional” (institutional economics ) pertama kali diperkenalkanoleh Walton Hamilton pada tahun 1919.
Namun tokoh-tokoh awal yang secara konvensional dianggap sebagai pendiri mazhab institusional dalam ekonomi diantaranya adalah Thorstein Veblen, Wesley Mitchell, dan John R. Commons (Rutherford, 2001). Pandangan tokoh-tokoh awal mazhab institusional tersebut menekankan beberapa isu antara lain: perubahan teknologi (technological change ), aspek psikologi dan aspek hokum adalah aspek-aspek yang harus di ikut sertakan dalam analisis ekonomi. Pada awalnya pandangan ini cukup berkembang karena dianggap lebih merepresentasikan dunia nyata (karena memiliki bukti empiris).
Namun dalam perjalanannya, perkembangan mazhab ini mengalami kemandekan (stagnation ) bahkan cenderung ditinggalkan karena tidak adanya pembahasan lebih lanjut dari para pendukung mazhab ini yang pada akhirnya mampu membentuk dan memberikan landasan teori yang kuat.Disamping itu, perkembangan mazhab neo-klassik yang secara luas mulai mengembangkan alat ekonometrik dalam analisisnya serta perkembangan mazhab ekonomi kesejahteraan (Welfare Economics) yang diusung oleh J.M. Keynes, membuat mazhab institusional menjadi semakin tertinggal karena dengan alat-alat analisis tersebut mazhab neo-klassik menjadi dianggap mampu untuk memberikan penjelasan secara empirik.
Meski demikian, semenjak tahun 1970-an, mazhab ekonomi institusional mengalami kebangkitan lagi.Namun mazhab ekonomi institusional yang bangkit belakangan tersebut tidak sepenuhnya sama dengan mazhab ekonomi institusional yang dibawa oleh Veblen dkk. Hal ini menyebabkan mazhab institusional yang muncul belakangan tersebut sering dinamakan sebagai mazhab institusional baru (New Institutional Economics) sementara pandangan Veblen dkk selanjutnya sering disebut sebagai mazhab institusional lama (Old institutional economics ).

Mazhab ekonomi institusional baru ini pada umumnya membahas perilaku ekonomi dengan menggunakan alat analisis yang dikembangkan dengan dukungan dari empat teori yang juga dapat digunakan sebagai alat analisis.Empat teori tersebut meliputi:
(1) teori biaya transaksi (transaction cost theory),
(2) teory hak kepemilikan (property rights theory),
(3) teori pilihan public (public choice theory), dan
(4) teori permainan (game theory).

Perbedaan mendasar lainnya antara mazhab institusional lama dan baru adalah bahwa mazhab institusional baru menggunakan dua dasar asumsi yaitu bahwa manusia berperilaku rasional (rational individual behavior) dan adanya fungsi preferensi individu yang jelas (individual preferences function); dimana kedua asumsi tersebut juga merupakan asumsi dasar yang sangat penting bagi mazhab neo-klassik. Oleh karena itu, mazhab institusional baru sering kali tidak diposisikan sebagai sanggahan terhadap mazhab ekonomi neo-klassik (sebagaimana mazhab institusional lama) tetapi sebagai bentuk pengembangan (extension) dari mazhab neo-klassik. Tokoh-tokoh yang mengembangkan mazhab institusional di antara nya adalah Wesley Clair Mitchel , Gunnar Karl Myrdal , Joseph A. Schumpeter , Douglas North .

Tokoh-tokoh pemikiran
Veblen sebagai tokoh utama aliran institusional mempunyai cukup banyak pengikut. Beberapa antaranya yang dapat di sebutkan disini adalah : Wesley mitchel, gunnar myrdal, joseph Schumpeter, dan yang terakhir Douglas north.
Wesley clair mitchal [1874-1948] adalah murid,teman dan pengagum veblen. Selain ikut dalam mendukung dan mengembangkan pemikiran-pemikiran gurunya, lebih lanjut ia juga berjasa dalam mengembangkan metode-metode kuantitatif dalam menjelaskan peristiwa-peristiwa ekonomi. Salah satu karyanya yang sudah menjadi klasik adalah :business cycles and their causes [1913]. Dengan menggunkan bermacam data statistik ia kemudian menjelaskan masalah fluktuasi ekonomi.
Sesudah perang dunia kedua ia mengorganisir sebuah badan penelitian “national bureau of economic research” yang memungkinkan lebih di kembangkanya penelitian-penelitian tetang pendapatan nasional, fluktuasi ekonomi atau business cycles,perubahan produktifitas, analisis harga, dan sebagainya.

a. Gunnar karl myrdal
Gunnar karl myrdal banyak menulis buku, antara lain : an america delima, value in social theory, challenge to affluence, dan asian drama : an inqury into the poverty of nations, salah satu pesan myrdal pada ahli-ahli ekonomi ialah agar ikut membuat value judgement. Jika itu tidak dilakukan struktur-struktur teoritis ilmu ekonomi akan menjadi tidak realities. Myrdal percaya bahwa pemikiran institusional sangat di perlukan dalam melaksanakan pembangunan di Negara berkembang. Myrdal meraih nobel di bidang ekonomi pada tahun 1974 bersama FA hayek atas jasa-jasanya dalam menyumbang pemikiran ekonomi, terutama bagi pembangunan Negara berkembang.

b. joseph A.schumpeter
Joseph A.schumpeter di masukkan ke dalam aliran institusional karena ia mengatakan bahwa sumber utama kemakmuran bukan terletak dalam ekonomi itu sendiri, melainkan berada diluarnya, yaitu dalam lingkungan dan institusi masyarakat. Sumber kemakmuran terletak dalam jiwa kewiraswastaan para pelaku ekonomi yang mengarsiteki pembangunan.

c. douglas north
Penghargaan terhadap aliran institusional mencapai puncaknya pada tahun 1993 pada waktu Douglas north menerima hadiah nobel dalam bidang ekonomi. Selama ini kebanyakan pakar ekonomi mengenggap hanya mekanisme pasar sebagai satu-satunya penggerak roda ekonomi, dan mengabaikan peran institusi. Hal ini di nilai north keliru, sebab peran institusi tidak kalah penting dalam pembangunan ekonomi. Ia menyimpulkan bahwa Negara komunis hancur karena tidak menpunyai institusi yang mendukung mekanisme pasar.
Terhadap perubahan yang radikal di eropa timur dan eks soviet, north mengatakan bahwa reformasi yang di lakukan tidak akan memberikan hasil nyata hanya dengan memperbaiki kebijakan ekonomi macro saja tapi juga di butuhkan dukungan seperangkat institusi yang mampu memberikan insentif yang tepet kepada setiap pelaku ekonomi. Contoh institusi yang mampu memberikan insentif tersebut adalah hokum paten dan hak cipta, hokum kontrak dan pemilikan tanah. Apa yang di maksud north dengan institusi sedikit berbeda dengan veblen sebagai pendiri aliran institusional.
Bagi veblen institusi di artikan sebagai norma-norma, nilai-nilai, tradisi dan budaya. Namun bagi north institusi adalah peraturan perundang-undangan berikut bersifat pemaksaan dari peraturan-peraturan tersebut serta norma-norma prilaku yang membentuk interaksi antara manusia secara berulang-ulang. North melihat institusi terutama pada konswekensi institusi tersebut atas pilihan-pilihan yang di lakukan oleh anggota masyarakat.

Corak Pemikiran Aliran Ekonomi Institusional
Pada tahun 20-an di daratan Amerika Serikat muncul aliran pemikiran ekonomi lain yang disebut aliran ekonomi “ institusional”. Ekonomi kelembagaan atau ekonomi institusional pada hakekatnya adalah cabang ilmu ekonomi yang menekankan pada pentingnya aspek kelembagaan dalam menentukan bagaimana sistem ekonomi dan sosial bekerja. [1]
Ada sedikit persamaan antara aliran Institusional dengan aliran Sejarah, keduanya sama-sama menolak metode Klasik. Akan tetapi, dasar falsafah dan kesimpulan-kesimpulan politik kedua aliran tersebut berbeda. Aliran Institusional menolak ide eksperimentasi sebagaimana yang dianut oleh aliran Sejarah. Begitu juga, pusat perhatian aliran institusional terhadap masalah-masalah ekonomi dalam kehidupan masyarakat berbeda.
Aspek metodologi ekonomi yang dikandung dalam ekonomi Institusional sering dimasukkan ke dalam ekonomi ortodoks. Ekonomi ortodoks maksudnya pemikiran-pemikiran ekonomi yang menggunakan dan melanjutkan pandangan-pandangan ekonomi Klasik, seperti persaingan bebas, persaingan sempurna, kepuasan konsumen. [2]
Orang yang paling berpengaruh dan mempunyai peran dominan terhadap keberadaan aliran Instistusional adalah Thorstein Bunde Veblen. Dia mengkritik teori ekonomi Klasik dan Neo-klasik yang mengabaikan aspek-aspek non-ekonomi seperti kelembagaan dan lingkungan.
Padahal Veblen menilai pengaruh keadaan dan lingkungan sangat besar terhadap tingkah laku ekonomi masyarakat. Struktur politik dan sosial yang tidak mendukung dapat menimbulkan distorsi proses ekonomi. Bagi Veblen mayarakat merupakan fenomena evolusi, segala sesuatunya terus mengalami perubahan. Pola perilaku seseorang dalam masyarakat disesuaikan dengan kondisi sosial sekarang. Jika perilaku tersebut cocok dan diterima, maka perilaku akan diteruskan. Sebaliknya, jika suatu perilaku dianggap tidak cocok maka perilaku akan disesuaikan dengan lingkungan. [3]
Keadaan dan lingkungan inilah yang disebut Veblen “institusi”. Dalam hal ini dijelaskan bahwa yang dimaksud Veblen dengan institusi adalah hal-hal yang terkait dengan norma-norma, nilai-nilai, kebiasaan, serta budaya. Selanjutnya semuanya direfleksikan kedalam kegiatan ekonomi, baik dalam berproduksi maupun mengkonsumsi. [4]

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa dalam pemikiran ekonomi Institusional Veblen mengatakan bahwa pola perilaku masyarakat mengalami perubahan baik itu dalam berproduksi maupun mengkonsumsi, di mana dalam mengkonsumsi mereka memprioritaskan kesenangan dan poya-poya dalam konsumsi sehingga menyebabkan munculnya kelompok leisure class.
Kemudian dalam berproduksi menurut Veblen pengusaha cenderung bersifat absentee ownership, di mana dalam mengembangkan usahanya mereka hanya berdiam diri sedangkan yang menjalankan usahanya tenaga professional yang digaji.
Pola perilaku seperti di atas terjadi pada masyarakat Amerika, tetapi tidak menutup kemungkinan pola perilaku seperti itu juga terjadi pada masyarakat Indonesia sekarang ini. Dengan adanya teori dari Veblen itu, sehingga kita tahu bahwa sebenarnya pola perilaku masyarakat juga perlu diatur baik itu dalam berproduksi maupun dalam mengkonsumsi.
Sedangkan menurut pendapat Imam asy-Syatibi maqashid al syariah (kemaslahatan) akan terealisasi apabila lima unsur pokok kehidupan manusia dapat terwujud dan terpelihara, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Kemaslahatan mempunyai relevansi yang begitu erat dengan konsep motivasi. Di mana konsep motivasi itu lahir seiring dengan munculnya persoalan “mengapa” seseorang berperilaku. Motivasi itu didefinisikan sebagai seluruh kondisi usaha keras yang timbul dari dalam diri manusia yang digambarkan dengan keinginan, hasrat, dan dorongan. Bila dikaitkan dengan konsep maqashid al- syariah, jelas bahwa, dalam pandangan Islam motivasi dalam melakukan aktivitas ekonomi adalah untuk memenuhi kebutuhannya dalam arti memperoleh kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat.
Kebutuhan yang belum terpenuhi merupakan kunci utama dalam suatu proses motivasi. Seorang individu akan terdorong untuk berperilaku bila terdapat suatu kekurangan dalam dirinya, baik secara psikis maupun psikologis. Motivasi itu sendiri meliputi usaha, ketekunan dan tujuan. Apabila manusia termotivasi untuk selalu berkreasi dan bekerja keras, maka hal itu akan mampu meningkatkan produktivitas kerja dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Jadi, terdapat perbedaan pandangan antara Veblen dengan Imam asy- Syatibi mengenai perilaku konsumen dan perilaku produsen. Kalau menurut Veblen tujuan hidup manusia untuk kesenangan dan kesejahteraan dunia belaka, sedangkan menurut Imam asy-Syatibi dalam Islam kita tidak hanya memikirkan kesejahteraan dunia semata, tetapi kita juga memikirkan kesejahteraan untuk akhirat.

Saran
Saran dan krtikan sangat penulis harapkan dari teman-teman dan dosen mata kuliah PERBANDINGAN SISTEM EKONOMI, yang sifatnya membangun guna kesempurnaan  makalah nantinya

DAFTAR PUSTAKA
Deliarnov,. Perkembangan Pemikiran Ekonomi (Edisi Revisi). PT Rajagrafindo Persada; Jakarta. 1997
Mudhofir, Ali, dan Heri Santoso. Asas Berfilsafat. Pustaka Rasmedia; Yogyakarta. 2007.
Skousen, Mark. The Modern Economics The Lives and Ideas of the Great Thinkers. Terjemahan oleh Tri Wibowo Budi Santoso. Prenada; Jakarta. 2006.
Russel, Bertrand. Perjumpaan Sains-Agama dan Cita-Cita Politik. Terjemahan oleh Ruslani. Penerbit Ufuk; Jakarta. 2005.
Titus, Harold, dkk. Persoalan-Persoalan Filsafat. Terjemahan oleh Prof. Dr. H. M. Rasjidi. Penerbit Bulan Bintang; Jakarta. 1984.
[1] Deliarnov, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010). h 141
[2] Skousen Mark, Sang Maestro “ Teori-Teori Ekonomi Modern”, Sejarah Pemikiran Ekonomi, (Jakarta: Pranada, 2006), h 303
[3] Ibid.h 141-142
[4] Delianov, Op. Cit., h. 143-144